Monday, August 3, 2015

9 Waktu Utama Membaca Surat Al-Ikhlas



Dari Abu Sa’id (Al Khudri) bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca dengan berulang-ulang ’Qul huwallahu ahad’. Tatkala pagi hari, orang yang mendengar tadi mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut dengan nada seakan-akan merendahkan surat al Ikhlas. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an”. (HR. Bukhari no. 6643) 

Dalam riwayat lain, dari Abu Darda’ dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka mengatakan, ”Bagaimana kami bisa membaca seperti Al Qur’an?” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 1922)

Ada waktu-waktu tertentu yang dianjurkan membaca surat Al Ikhlas. Berikut sembilan waktu yang dianjurkan untuk mengamalkan surat Al-Ikhlas.


Pertama: waktu pagi dan sore hari

Pada waktu ini, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash bersama dengan maw’idzatain (surat Al Falaq dan surat An Naas) masing-masing sebanyak tiga kali. Keutamaan yang diperoleh adalah: akan dijaga dari segala sesuatu (segala keburukan).

Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata,

Pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya. Beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?” Namun sedikitpun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah“. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah“. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah“. Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah (bacalah surat) QUL HUWALLAHU AHAD dan QUL A’UDZU BIRABBINNAAS dan QUL A’UDZU BIRABBIL FALAQ ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akan mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan.” (HR. Abu Daud no. 5082 dan An Nasai no. 5428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Kedua: sebelum tidur

Pada waktu ini, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas dengan terlebih dahulu mengumpulkan kedua telapak tangan, lalu keduanya ditiup, lalu dibacakanlah tiga surat ini. Setelah itu, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Cara seperti tadi diulang sebanyak tiga kali.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birabbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birabbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017)


Ketiga: ketika ingin me-ruqyah (membaca do’a dan wirid untuk penyembuhan ketika sakit)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) dan Mu’awidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur, -pen).” (HR. Bukhari no. 5748)

Jadi tatkala meruqyah, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas dengan cara: terlebih dahulu mengumpulkan kedua telapak tangan lalu keduanya ditiup lalu dibacakanlah tiga surat tersebut. Setelah itu, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Cara seperti ini diulang sebanyak tiga kali.


Keempat: wirid seusai shalat (sesudah salam)

Sesuai shalat dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An Naas masing-masing sekali. 

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani. (Fathul Bari, 9/62)


Kelima: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh)

Ketika itu, surat Al Ikhlash dibaca bersama surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.

Dari’ Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua raka’at qobliyah shubuh adalah Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan Qul yaa ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun).” (HR. Ibnu Khuzaimah 4/273. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Silsilah Ash Shohihah bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 646). Hal ini juga dikuatkan dengan hadits Ibnu Mas’ud yang akan disebutkan pada point berikut.


Keenam: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah ba’diyah maghrib

Ketika itu, surat Al Ikhlash dibaca bersama surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

“Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat pada shalat dua raka’at ba’diyah maghrib dan pada shalat dua raka’at qabliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al Kafirun) dan qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash).” (HR. Tirmidzi no. 431. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)


Ketujuh: dibaca ketika mengerjakan shalat witir tiga raka’at

Ketika itu, surat Al A’laa dibaca pada raka’at pertama, surat Al Kafirun pada raka’at kedua dan surat Al Ikhlash pada raka’at ketiga.

Dari ‘Abdul Aziz bin Juraij, beliau berkata, “Aku menanyakan pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah membaca Al Fatihah) ketika shalat witir?”

‘Aisyah menjawab,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada raka’at pertama: Sabbihisma rabbikal a’la (surat Al A’laa), pada raka’at kedua: Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan pada raka’at ketiga: Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas).” (HR. An Nasai no. 1699, Tirmidzi no. 463, Ahmad 6/227)


Kedelapan: dibaca ketika mengerjakan shalat Maghrib (shalat wajib) pada malam jum’at

Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.

Dari Jabir bin Samroh, beliau mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika shalat maghrib pada malam Jum’at membaca Qul yaa ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul ‘ huwallahu ahad’. ” (Syaikh Al Albani dalam Takhrij Misykatul Mashobih (812) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)


Kesembilan: ketika shalat dua rak’at di belakang maqam Ibrahim setelah thawaf

Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang amat panjang disebutkan,

“Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqam Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut, beliau membaca Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun) dan Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 56)


Semoga kita mendapatkan keberkahan dengan mengamalkannya. 







sumber: rumaysho.com


Thursday, July 30, 2015

Hukum Asuransi Dalam Islam



Fatwa MUI yang mengharamkan BPJS sepertinya telah membuat heboh. Berbagai macam reaksi dan komentar muncul di media sosial, tidak hanya dari umat Muslim yang memang menjadi jangkauan fatwa MUI ini, tetapi juga dari kalangan non Muslim. Dan tidak hanya komentar, berbagai macam pendapat pun mulai bermunculan, dari yang sejalan dengan fatwa ini, maupun yang menentangnya. 

Saya sendiri termasuk yang setuju tentang haramnya BPJS ini hingga tidak merasa heran atau terkejut dengan dikeluarkannya fatwa MUI ini. Yang membuat saya merasa heran justru karena adanya pendapat yang menentang keharaman BPJS yang berasal dari kalangan Muslim.

Saya memang telah banyak membaca dan belajar mengenai haramnya asuransi dan riba, dan masih merasa perlu untuk terus belajar tentang muamalah, agar lebih paham mana yang halal dan mana yang haram. Dari yang saya pelajari, asuransi mengandung 3 keharaman sekaligus, yakni riba, gharar dan maisir. 

Bahkan asuransi termasuk memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Pihak asuransi mengambil harta nasabah namun tidak selalu memberikan timbal balik. Sebelum paham tentang hukum asuransi, selama beberapa tahun saya mengasuransikan kendaraan yang saya miliki. Jika tidak terjadi klaim, maka uang premi yang saya bayarkan akan hilang dan hangus begitu saja, dalam kata lain, saya telah memberikan uang secara cuma-cuma kepada pihak asuransi, tidak ada timbal balik yang saya terima.

Coba saja cermati bagaimana cara agen asuransi menawarkan produknya. Biasanya kita akan ‘ditakut-takuti’ dengan kejadian yang buruk yang bisa menimpa kita di masa depan. Seakan-akan masa depan kita akan selalu suram, dan kita tidak akan mampu menanggulangi masalah kita di masa depan tanpa asuransi. Seakan-akan asuransi telah menjadi solusi untuk masa depan. Tidak ada rasa tawakkal dan tidak percaya akan janji Allah yang akan selalu memberi pertolongan dan kemudahan. 

Berbagai jenis asuransi asalnya haram. Berikut adalah rincian mengapa asuransi hukumnya haram dan karenanya menjadi terlarang sebagaimana dikutip dari rumaysho.com 

1. Akad yang terjadi dalam asuransi adalah akad untuk mencari keuntungan (mu’awadhot). Jika kita tinjau lebih mendalam, akad asuransi sendiri mengandung gharar (unsur ketidak jelasan). Ketidak jelasan pertama dari kapan waktu nasahab akan menerima timbal balik berupa klaim. Tidak setiap orang yang menjadi nasabah bisa mendapatkan klaim. Ketika ia mendapatkan accident atau resiko, baru ia bisa meminta klaim. Padahal accident di sini bersifat tak tentu, tidak ada yang bisa mengetahuinya. Boleh jadi seseorang mendapatkan accident setiap tahunnya, boleh jadi selama bertahun-tahun ia tidak mendapatkan accident. Ini sisi gharar pada waktu.

Sisi gharar lainnya adalah dari sisi besaran klaim sebagai timbal balik yang akan diperoleh. Tidak diketahui pula besaran klaim tersebut. Padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli yang mengandung gharar atau spekulasi tinggi sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari jual beli gharar (mengandung unsur ketidak jelasan)” (HR. Muslim no. 1513).


2. Dari sisi lain, asuransi mengandung qimar atau unsur judi. Bisa saja nasabah tidak mendapatkan accident atau bisa pula terjadi sekali, dan seterusnya. Di sini berarti ada spekulasi yang besar. Pihak pemberi asuransi bisa jadi untung karena tidak mengeluarkan ganti rugi apa-apa. Suatu waktu pihak asuransi bisa rugi besar karena banyak yang mendapatkan musibah atau accident. Dari sisi nasabah sendiri, ia bisa jadi tidak mendapatkan klaim apa-apa karena tidak pernah sekali pun mengalami accident atau mendapatkan resiko. Bahkan ada nasabah yang baru membayar premi beberapa kali, namun ia berhak mendapatkan klaimnya secara utuh, atau sebaliknya. Inilah judi yang mengandung spekulasi tinggi. Padahal Allah jelas-jelas telah melarang judi berdasarkan keumuman ayat,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maysir (berjudi), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah: 90). Di antara bentuk maysir adalah judi.


3. Asuransi mengandung unsur riba fadhel (riba perniagaan karena adanya sesuatu yang berlebih) dan riba nasi’ah (riba karena penundaan) secara bersamaan. Bila perusahaan asuransi membayar ke nasabahnya atau ke ahli warisnya uang klaim yang disepakati, dalam jumlah lebih besar dari nominal premi yang ia terima, maka itu adalah riba fadhel. Adapun bila perusahaan membayar klaim sebesar premi yang ia terima namun ada penundaan, maka itu adalah riba nasi’ah (penundaan). Dalam hal ini nasabah seolah-olah memberi pinjaman pada pihak asuransi. Tidak diragukan kedua riba tersebut haram menurut dalil dan ijma’ (kesepakatan ulama).


4. Asuransi termasuk bentuk judi dengan taruhan yang terlarang. Judi kita ketahui terdapat taruhan, maka ini sama halnya dengan premi yang ditanam. Premi di sini sama dengan taruhan dalam judi. Namun yang mendapatkan klaim atau timbal balik tidak setiap orang, ada yang mendapatkan, ada yang tidak sama sekali. Bentuk seperti ini diharamkan karena bentuk judi yang terdapat taruhan hanya dibolehkan pada tiga permainan sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada taruhan dalam lomba kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda” (HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani). Para ulama memisalkan tiga permainan di atas dengan segala hal yang menolong dalam perjuangan Islam, seperti lomba untuk menghafal Al Qur’an dan lomba menghafal hadits. Sedangkan asuransi tidak termasuk dalam hal ini.


5. Di dalam asuransi terdapat bentuk memakan harta orang lain dengan jalan yang batil. Pihak asuransi mengambil harta namun tidak selalu memberikan timbal balik. Padahal dalam akad mu’awadhot (yang ada syarat mendapatkan keuntungan) harus ada timbal balik. Jika tidak, maka termasuk dalam keumuman firman Allah Ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku saling ridho di antara kamu” (QS. An Nisa’: 29). Tentu setiap orang tidak ridho jika telah memberikan uang, namun tidak mendapatkan timbal balik atau keuntungan.

6. Di dalam asuransi ada bentuk pemaksaan tanpa ada sebab yang syar’i. Seakan-akan nasabah itu memaksa accident itu terjadi. Lalu nasabah mengklaim pada pihak asuransi untuk memberikan ganti rugi padahal penyebab accident bukan dari mereka. Pemaksaan seperti ini jelas haramnya.


Jadi telah jelas bahwa asuransi itu termasuk transaksi ghaib, spekulatif dan untung-untungan. Kita sebagai nasabah tidak tahu kapan akan mendapatkan pertanggungan. Klaim bisa terjadi kapan saja, atau pihak asuransi bisa tidak perlu membayar klaim jika tidak terjadi apa-apa. Lebih baik asuransikan diri kita, keluarga kita dan masa depan hanya dengan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menjanjikan, 

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath Tholaq [65]: 2-3).



Wallahu'alam bishawab


Monday, July 13, 2015

9 Tanda Orang Berakal



Satu bukti Islam sebagai agama yang menghargai akal dapat dibuktikan dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an, baik yang tersurat maupun tersirat memerintahkan umatnya untuk berpikir dengan memperhatikan apa saja yang ada di dunia ini, bahkan di dalam diri manusia itu sendiri.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz-Dzariyat [51]: 21).

Dengan demikian, sungguh beruntung umat Islam, karena kitab sucinya justru mendorong untuk mempergunakan akalnya secara maksimal guna mengetahui hingga haqqul yaqin kebenaran ajaran Islam. Oleh karena itu seorang Muslim itu idealnya adalah orang yang benar-benar memanfaatkan akalnya.

Menurut Buya Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dalam bukunya Falsafah Hidup orang berakal itu memiliki tanda-tanda nyata dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.

Pertama, orang berakal itu luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih perkara yang memberi manfaat dan menjauhi yang akan menyakiti. Dia memilih mana yang lebih kekal walaupun sulit jalannya daripada yang mudah didapat padahal rapuh. Jadi, akhirat lebih utama bagi mereka dibanding dunia.


Kedua, orang berakal selalu menaksir harga dirinya, yakni dengan cara menilik hari-hari yang telah dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal ke manakah akan dimanfaatkan. Jadi, tidak ada waktu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berfaedah, apalagi sampai menguliti kesalahan atau aib orang lain.


Ketiga, orang berakal senantiasa berbantah dengan dirinya. Sebelum melakukan suatu tindakan, ada timbangan yang digunakan, apakah yang dilakukannya baik atau jahat dan berbahaya. Kalau baik, maka diteruskan, jika berbahaya segera dihentikan.


Keempat, orang berakal selalu mengingat kekurangannya. Bahkan, kata Buya Hamka, “Kalau perlu dituliskannya di dalam suatu buku peringatan sehari-hari. Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan. Peringatan diulang-ulangnya dan buku itu kerapkali dilihatnya untuk direnungi dan diikhtiarkan mengasur-angsur mengubah segala kekurangan itu.”


Kelima, orang berakal tidak berdukacita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Buya Hamka menulis, “Diterimanya apa yang terjadi atas dirinya dengan tidak merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha. Jika rugi tidaklah cemas, dan jika berlaba tidaklah bangga. Karena cemas merendahkan hikmah dan bangga mengihilangkan timbangan.”


Keenam, orang berakal enggan menjauhi orang yang berakal pula. Artinya, temannya adalah orang yang berhati-hati dalam hidupnya, sehingga terjaga komitmennya dalam memegang risalah kebenaran.


Ketujuh, orang yang berakal tidak memandang remeh suatu kesalahan.

“Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak mau memandang kecil suatu kesalahan. Karena bila kita memandang kecil suatu kesalahan, yang kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar.”


Kedelapan, orang yang berakal tidak bersedih hati. Buya Hamka menulis, “Orang yang berakal tidak berduka hati. Karena kedukaan itu tiada ada faedahnya. Banyak duka mengaburkan akal. Tidak dia bersedih, karena kesedihan tidaklah memperbaiki perkara yang telah terlanjur. Dan, banyak sedih mengurangi akal.”


Kesembilan, orang berakal hidup bukan untuk dirinya semata, tetapi untuk manusia dan seluruh kehidupan. Buya Hamka menulis, “Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukat buat dirinya sendiri.”

Demikianlah sembilan tanda orang berakal menurut Buya Hamka. Dan, lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa orang berakal itu hanya memiliki kerinduan kuat pada tiga perkara. Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian. Kedua, mencari kelezatan buat jiwa. Dan, ketiga, menyelidiki arti hidup.

Subhanallah, uraian Buya Hamka ini sangat berfaedah buat kita semua untuk mengukur diri, apakah selama ini telah memanfaatkan akal sebaik-baiknya, atau justru sebaliknya. Tetapi, apapun yang telah berlalu, sekarang adalah saatnya kita meningkatkan iman dan taqwa dengan memaksimalkan fungsi dan peran akal sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. 



Wallahu a’lam bishawab









Sunday, July 12, 2015

Manfaat Air Rendaman Kurma



Tips buat sahabat yang lemah kurang bertenaga saat berpuasa


Apa itu air Nabeez..?

Air nabeez adalah air rendaman (infused water) kurma / kismis (raisins). Kurma atau kismis di rendam dalam air masak semalaman (dalam wadah yang bertutup) dan diminum keesokan paginya.

Sumber mengatakan: air nabeez ini merupakan kegemaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi merendam beberapa butir kurma atau kismis (salah satunya) di dalam air untuk semalaman (dalam wadah bertutup) dan meminum air rendaman kurma tersebut diwaktu pagi hari. Airnya Nabi minum dan buah kurma yg sudah lembut, Nabi telan dengan sekali telan.

Ada beberapa hadis yang menyebutkan tentang cara membuat air nabeez ini, salah satunya riwayat dari Imam Muslim sebagai berikut :

Aisyah pernah ditanya tentang nabeez, kemudian ia memanggil seorang budak wanita asal Habasyah. “Bertanyalah kepada wanita ini!” Kata Aisyah. “Karena ia dahulu pernah membuat nabeez untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” tambahnya.

Lalu wanita asal Habasyah itu berkata, “Aku pernah membuat nabeez untuk beliau dalam sebuah kantung kulit pada malam hari. Kemudian aku mengikatnya dan menggantungnya. Lalu di pagi harinya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminumnya.”

Dari Aisyah dia berkata, “Kami biasa membuat perasan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam air minum yang bertali di atasnya, kami membuat rendaman di pagi hari dan meminumnya di sore hari, atau membuat rendaman di sore hari lalu meminumnya di pagi hari.” (H.R. Muslim)

Berbicara mengenai infused water. Orang barat baru sekarang faham dan baru mempopulerkan khasiat infused water ini. Tetapi Nabi kita telah lama melakukan hal ini.

Dari segi kesehatan tubuh, buah kurma telah terbukti sebagai :

1. Pemberi dan pemulih tenaga (inilah sebab mengapa kita disunahkan untuk memakan buah kurma pada saat berbuka puasa).

2. Tinggi kandungan fiber ~ menghilangkan kolestrol jahat yang terkumpul di dalam tubuh. Sangat bagus dalam menghilangkan sembelit (atau meredakan dan memulihkan diri dari sembelit).

3. Pemberi zat besi yang sangat bagus.

4. Kaya akan pottassium ~ penting dalam menjaga jantung dan menstabilkan tekanan darah.


Khasiat air nabeez

Air nabeez adalah minuman berakali, yang mampu menolong membuang kelebihan asam pada perut dan memulihkan sistem pencernaan tubuh. Juga membantu badan untuk menyingkirkan bahan-bahan toksin yang berbahaya didalam tubuh. Dalam kata lain betguna sebagai sebagai detox.

Disebabkan air nabeez tinggi akan kadar fiber, ia mampu membantu proses pencernaan yang baik dan meningkatkan / menajamkan fikiran. Agar kita tidak mudah lupa.


Cara membuat air nabeez :

Rendamlah beberapa butir kurma (sebagusnya dalam bilangan ganjil) ke dalam air masak didalam segelas air. Alangkah baiknya dibuat pada waktu sore menjelang malam, dan pastikan gelas rendaman kurma tersebut tertutup rapat. Keesokkan paginya (+ 8-12 jam setelah perendaman), air rendaman baru boleh diminum dan buah kurma hasil rendaman yang telah lembut itu, dimakan begitu saja.

Kurma yang baik digunakan untuk membuat air nabeez adalah kurma ajwa. Tapi kalau tidak ada kurma ajwa bisa menggunakan buah kurma yang lainnya.

Kalau ingin membuat air nabeez dengan menggunakan buah kismis pun bisa. Caranya ambil segenggam kismis, kemudian direndam dalam segelas air. Dan dibiarkan semalaman seperti membuat air rendaman kurma.

Kalau ingin meminum air nabeez di waktu pagi hari, siapkan rendaman kurma / kismis pada sore menjelang malam. Dan kalo ingin meminum air nabeez di waktu malam, buatlah rendaman kurma / kismis di waktu pagi hari (+ 8 sampe 12 jam perendaman).


Larangan dalam membuat air nabeez :

Hanya menggunakan salah satu daripada kedua buah-buahan (Kurma / Kismis) pada satu waktu. Tidak boleh mencampurkan antara kurma dan kismis dalam membuat air nabeez. Maksudya tidak boleh mencampurkan kedua buah tersebut dalam satu wadah.

Air nabeez bila tersimpan di dalam lemari es bisa bertahan 1 hingga 2 hari.

Tetapi dilarang meminum air rendaman kurma / kismis yang sudah memasuki lebih dari 3 hari. Ini disebabkan air rendaman kurma / kismis yang dibiarkan melebihi 3 hari terjadi proses fermentasi, yang menjadikan, air rendaman kismis / kurma tersebut menjadi arak, dan hukumnya haram untuk diminum.

Oleh karena itu, lebih baik membuat air nabeez fresh daily.

Dalam meminum atau menikmati Air nabeez ini dapat ditambah dengan susu / yogurt untuk dijadikan smoothie juga.

Semoga bermanfaat..







sumber: 9liputan.com

Saturday, July 11, 2015

Perhatikan Apa Yang Disampaikan, Bukan Siapa Yang Menyampaikan



“Ada ayatnya ngga?” 

Untuk kesekian kalinya pertanyaan ini diajukannya pada setiap kali saya memberinya masukan atau nasihat. Saya tak pernah tahu pasti alasan dia mengajukan pertanyaan itu. Apakah karena saya dipandang belum cukup baik apalagi pantas untuk memberikan nasihat, ataukah karena dia hanya mau menerima nasihat yang berlandaskan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Atau bahkan itu hanya dalihnya saja untuk menolak dinasihati.

Saya tidak yakin yang mana dari ketiga alasan tersebut yang lebih baik atau yang lebih buruk. Tetapi saya perhatikan dia belum juga memperbaiki apa yang kurang sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan masukan yang saya berikan dengan memperlihatkan salah satu hadist pun juga tidak dihiraukannya. Ah, barangkali memang saya lah yang jadi “masalah”nya. Mungkin baginya saya belum layak untuk memberikan nasihat, apalagi untuk menyampaikan sebuah hadits. Mungkin baginya saya masih bukan siapa-siapa.

Saya jadi teringat salah satu cuitan yang pernah beredar di twitter yang mengatakan “nerakaku bukan urusanmu, apalagi surga belum tentu jadi tempatmu”. Barangkali ini contoh apa yang akan dikatakan oleh seseorang yang menolak nasihat. Jika memang perkataan ini benar adanya, maka siapakah di muka bumi ini yang pantas untuk memberikan nasihat? 

Padahal telah jelas dinyatakan dalam Al-Qur’an:

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS Al-Ashr’[103]: 3)

Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan tentang ciri orang beriman. Yaitu, orang-orang yang saling menasihati dalam kebeneran dan kesabaran. Artinya, setiap muslim beriman hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk saling mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada hal yang akan mendekatkan kepada Allah. Dan, melarang dari perbuatan yang tidak disukai Allah.

Sayangnya, diantara kita masih belum siap menerima kritikan, nasihat dari orang lain. Terlebih jika orang yang memberi nasihat itu kita anggap lebih rendah dari kita. Sehingga, langkah awal kita untuk mengamalkan ayat di atas, adalah berusaha menerima kritikan, nasihat dari siapapun tentang diri kita, tanpa melihat siapa yang menyampaikan nasihat tersebut.

Unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala” perhatikanlah apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Demikianlah sebuah pesan masyhur yang disampaikan oleh salah seorang sahabat Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali bin Abi Thalib r.a yang kurang lebih maknanya adalah kita bisa mendapatkan nasihat dari siapapun. Baik ia seorang yang lebih muda dari kita, seorang anak kecil, orang tak dikenal, bahkan seorang ahli maksiat pun asalkan apa yang disampaikan itu benar dan baik dan maka kita harus mengamini nasihat tersebut. Tidak masalah siapa yang menyampaikan, yang terpenting adalah apa yang disampaikan.

Namun hari ini, seringkali yang terjadi adalah kebalikannya. Banyak orang yang lebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana penampilannya, bagaimana rupanya, bagaimana gaya bicaranya, hingga kepopulerannya. Hal ini bahkan juga berlaku di majelis-majelis ilmu. Banyak sekali orang yang mengahdiri majelis ilmu atau kajian-kajian hanya dengan pertimbangan siapa ustadznya. Yang terpenting siapa ustadznya, konten kajiannya menjadi urusan belakangan. 

Sebuah kajian dengan pembicara seorang ustadz yang kurang populer akan sepi peminat, sebaliknya jika penyampai tema adalah seorang ustadz yang populer dan sering tampil di media jumlah yang hadir bisa melebihi kapasitas tempat yang disediakan. Padahal bisa jadi kemampuan dan kualitas keilmuan ustadz yang kurang populer tidak diragukan lagi bahkan mungkin jauh melebihi kemampuan ustadz yang populer. Popularitas memang seringkali dapat mengalahkan kualitas.

Kita harus selalu bahagia, ketika ada yang memberikan nasihat kepada kita, siapapun yang menyampaikannya. Karena diri kita adalah manusia yang lemah yang selalu diliputi kesalahan dan kekhilafan, baik yang disebabkan oleh kelalaian kita sendiri maupun akibat godaan syeitan. Kita bukanlah malaikat atau nabi yang maksum yang tidak pernah berbuat salah. Oleh karena itu kita membutuhkan nasihat untuk selalu mengingatkan diri kita. Ibarat cermin, harus ada orang lain yang bisa melihat dan memberitahukan kekurangan diri kita, serta memberikan nasihat agar kita bisa segera memperbaikinya.

Ibarat sedang bercermin, kita selalu ingin tampak rapih di depan cermin. Jika ada yang berantakan tanpa segan kita tentu akan memperbaikinya. Kita tidak kesal dengan cermin yang menampilkan bayangan kita yang berantakan. Justru kita tetap merapihkan bagian yang terlihat kurang bagus. Begitulah orang yang selalu senang menerima kritikan dari orang lain yang memberitahukan kekurangan yang ada pada dirinya. Ia akan berterima kasih, bukannya marah atau kesal. Yang ia lakukan selanjutnya adalah segera memperbaiki kekurangan yang disebutkan itu, seperti saat ia merapihkan dirinya di depan cermin. 

Dengan tulisan ini, penulis sedang menasihati dirinya sendiri dan semoga nasihat kepada dirinya ini juga menjadi nasihat kepada diri yang lain. Apabila ada yang berbicara, menyampaikan kebenaran dan nasihat, maka simaklah baik-baik isi pembicaraannya. Jika sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya maka kita ikuti, siapapun penyampainya. Tetapi jika bertentangan, walaupun yang mengatakannya seorang ulama sekalipun, maka wajib kita tinggalkan.

Semoga dengan hidup saling menasihati, akhlak dan perilaku kita dapat terjaga. Setiap ada yang salah dengan sikap kita, ada orang lain yang sigap memberitahukannya kepada kita Salah satu hikmah mengapa kita harus saling menasihati adalah karena dengan mengajak orang lain kepada suatu kebaikan, maka kita juga akan mendapatkan pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut tanpa mengurangi pahala kita sedikit pun. Dan pahala itu akan terus mengalir selama orang bersangkutan masih mengamalkan kebaikan yang kita ajarkan.



Wallahu'alam bishawab